5 Kunci Rahasia Sukses Usaha Budidaya Ikan Lele di Kolam Terpal

Budidaya ikan lele – Di antara sekian banyak jenis ikan air tawar, ikan lele termasuk yang banyak diminati oleh masyarakat Indonesia. Jadi, tak heran bila budidaya ikan lele pun menjadi salah satu ladang bisnis yang banyak ditekuni saat ini.

Jenis Ikan Lele yang Banyak Dibudidayakan di Indonesia

Ikan lele yang bernama latin Clarias sp. memiliki banyak jenis yang tersebar di seluruh dunia, khususnya Asia dan Afrika. Namun, tidak semua jenis ikan lele ini dibudidayakan di Indonesia.

Alasannya karena untuk kebutuhan konsumsi, para pengusaha budidaya ikan berkumis ini memilih jenis yang cepat pertumbuhannya serta tahan terhadap penyakit.

Ada 6 jenis ikan lele yang banyak diminati untuk dibudidayakan, yaitu:

1.    Lele Lokal

https://farmbos.com

Ikan bernama latin Clarias batrachus merupakan lele asli Indonesia dan sudah dikenal sejak tahun 1975. Habitatnya adalah perairan yang tenang dan berlumpur, seperti kolam, saluran air, rawa, dan anak sungai, memiliki patil yang tajam dan berbisa.

Ada tiga jenis lele lokal, yaitu lele hitam yang banyak dikonsumsi, serta lele putih dan lele merah yang merupakan ikan hias. Harga ikan lele lokal berkisar antara Rp20.000,00 sampai Rp25.000,00 per kilogram.

Daging lele lokal disukai karena rasanya yang gurih, empuk, dan rendah lemak. Namun, pertumbuhannya sangat lambat. Untuk mencapai bobot 500 gram, dibutuhkan waktu 1 tahun.

2.    Lele Dumbo

https://farmbos.com

Lele dumbo merupakan hasil persilangan antara spesies Clarias mosambicus dari Afrika dan Clarias fuscus dari Taiwan. Lele jenis ini masuk ke Indonesia sekitar tahun 1985.

Ciri lele dumbo adalah berukuran dua kali lipat lele lokal, tubuhnya pendek dan tumpul, sungutnya panjang, memiliki patil yang tidak beracun, kulitnya berwarna hitam kehijauan dan muncul bercak hitam dan putih saat stres.

Lele ini cocok dibudidayakan di kolam tanah dan dapat dipanen setelah tiga bulan. Lele dumbo mudah dipelihara, pertumbuhannya cepat, dan dapat dipijahkan sepanjang tahun.

Keunggulan lain dari lele dumbo adalah tahan terhadap penyakit, kemampuan bertelurnya besar, efisiensi pakannya tinggi, dan mudah beradaptasi. Sayangnya, daging lele dumbo tidak selezat lele lokal dan teksturnya lembek.

3.    Lele Mutiara

https://farmbos.com

Nama “mutiara” merupakan kependekan dari “mutu tinggi tiada tara”, merupakan hasil pengembangan Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (BPPI) Sukamandi, Subang, Jawa Barat, pada tahun 2014.

Lele ini berkualitas unggul karena merupakan hasil seleksi dari persilangan antara lima jenis lele, yaitu lele lokal, dumbo, sangkuriang, phyton, dan lele mesir.

Lele mutiara sangat disukai petani karena pertumbuhannya cepat, FCR atau rasio konversi pakan rendah, tahan terhadap penyakit, toleransi lingkungan tinggi, keseragaman ukurannya juga cukup tinggi, yaitu 80%. Harga jual lele mutiara pun lebih menguntungkan, yaitu berkisar Rp25 ribu sampai Rp30 ribu per kilogram.

4.    Lele Sangkuriang

https://farmbos.com

Lele ini adalah hasil perbaikan lele dumbo yang dilakukan oleh Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi. Ciri fisiknya menyerupai lele dumbo, tetapi lebih besar, bulat, berwarna abu-abu, memiliki mata lebih kecil dan mulut lebih panjang.

Ikan ini lebih baik dibiakkan di tempat sejuk, sehingga kolam sebaiknya diberi pelindung berupa atap atau tanaman air.

Keunggulan lele sangkuriang adalah kemampuan bertelur dan daya tetas telurnya tinggi, FCR rendah, masa panen cepat, tahan penyakit, ukuran benih merata, dan dapat dipelihara dalam kondisi air yang minim.

Selain itu, sangat cocok di jadikan olahan ikan lele yang enak dan mantap, karena dagingnya padat, rendah lemak, gurih, renyah, tidak berbau lumpur, dan mengandung omega 3. Harga lele sangkuriang adalah sekitar Rp25 ribu per kilogram.

5.    Lele Masamo

https://farmbos.com

Masamo adalah singkatan dari nama sebuah pabrik pakan di Mojokerto, Jawa Timur, yang mengembangkan lele ini dengan menggabungkan genetik 7 strain lele dari berbagai negara. Ciri fisiknya adalah bentuk kepala lonjong dengan tonjolan di bagian tengkuk dan terdapat pola seperti tahi lalat di sekujur tubuh.

Lele masamo memiliki keunggulan berupa tubuh yang besar, pertumbuhan cepat, rakus tetapi efisiensi pakannya tinggi, tingkat keseragaman ukuran tinggi, tidak mudah stres dan tahan penyakit, produktivitas telur tinggi, dan sifat kanibal rendah.

Masa panen lele masamo adalah sekitar 2-3 bulan sejak pembibitan, dengan ukuran panen 6-9 ekor per kilogram.

6.    Lele Phyton

http://4.bp.blogspot.com

Berawal dari kematian massal benih lele akibat tidak cocok dengan iklim setempat, sekelompok petani di Pandeglang melakukan eksperimen dengan menyilangkan indukan betina dari Thailand dengan induk jantan lele dumbo F6. Lele jenis baru ini diberi nama lele phyton karena bentuk kepala dan warnanya mirip ular phyton.

Lele phyton memiliki tubuh panjang, punuk di belakang kepala, ekor bulat, dan sungut yang panjang. Pertumbuhannya relatif cepat, dapat dipanen setelah 2 bulan, dengan harga jual Rp23 ribu hingga Rp 25 ribu per kilogram.

Rasa dagingnya sendiri menyerupai lele lokal sehingga banyak disukai. Hanya saja, bobot tubuhnya lebih kecil karena tubuhnya ramping.

Cara Memilih Bibit Ikan Lele yang Baik

Banyak faktor yang menentuan sukses tidaknya menjalankan usaha budidaya ikan lele. Salah satu yang paling penting adalah kualitas bibit ikan lele. Kesalahan dalam pemilihan bibit akan menyebabkan risiko kerugian yang tentu tidak diinginkan.

http://www.dayausaha.com

Untuk mendapatkan bibit yang berkualitas, perhatikan tujuh kriteria atau ciri berikut ini saat akan membeli bibit ikan lele. Ketujuh kriteria tersebut adalah:

1.    Berasal dari Budidaya Benih

Bibit yang diperoleh dari budidaya benih lebih terjamin kualitasnya. Karena bibit sudah menjalani proses pemeliharaan yang intensif, berasal dari indukan terbaik, dan dapat diketahui cara terbaik untuk membesarkan bibit sampai menghasilkan ikan lele yang siap dipasarkan.

2.    Gerakannya Lincah

Untuk mengetes kualitas bibit ikan lele dari gerakannya, tangkap bibit dengan tangan. Jika sulit ditangkap karena bergerak gesit, bibit tersebut adalah bibit yang bagus untuk dipilih.

Cara lainnya, masukkan bibit ke dalam sebuah wadah, lalu miringkan. Jika sebagaian besar bergerak melawan arus, itu pertanda bibit tersebut berkualitas baik. Begitu juga sebaliknya.

3.    Fisiknya Sempurna

Kondisi fisik bibit sangat penting karena lele yang bentuk tubuhnya tidak sempurna akan sulit dijual. Ciri fisik bibit yang baik adalah morfologi tubuhnya seimbang, kulitnya cerah dan mengkilap, badannya mulus dan memiliki warna yang merata, yaitu cokelat tua atau hitam kemerahan.

4.    Berasal dari Indukan Berkualitas

Bibit yang berasal dari indukan yang unggul akan memiliki kualitas yang unggul juga. Hindari memilih bibit yang berasal dari inbreeding. Semakin jauh tingkat kekerabatannya, kualitas bibit semakin bagus.

5.    Sehat

Tanyakan riwayat kesehatan bibit kepada penjual agar lebih mudah ditangani jika ikan lele kembali mengalami sakit yang sama. Hindari penggunaan antibiotik atau obat-obatan secara berlebihan.

6.    Ukurannya Seragam

Keseragaman ukuran bibit penting untuk menghindari risiko terjadinya kanibalisme, yaitu ikan besar memangsa ikan kecil. Akibatnya, peternak rugi karena jumlah ikan lele semakin berkurang, bahkan habis sebelum panen. Pastikan ukuran bibit benar-benar seragam, minimal 90% dari seluruh bibit memiliki ukuran yang sama.

7.    Penjualnya Memiliki Sertifikat CPIB

Dalam dunia usaha budidaya ikan, dikenal istilah CPIB, yaitu Cara Pembenihan Ikan yang Baik. Meskipun tidak harus, sedapat mungkin pilihlah penjual bibit yang sudah memiliki sertifikat CPIB, karena itu berarti penjual sudah menerapkan cara pembenihan sesuai standar.

Membuat Pakan Ikan Lele Sendiri

https://pakanlele.files.wordpress.com

Harga pelet pabrikan untuk pakan ikan lele tergolong mahal karena sebagian besar bahan bakunya diimpor. Untuk menyiasatinya, para peternak bisa membuat sendiri pakan alternatif dengan bahan yang lebih murah.

Pakan harus mengandung nutrisi lengkap dan seimbang, yaitu protein (35%), lemak (16%), dan karbohidrat (20%), serta vitamin dan mineral.

Kualitas pakan salah satunya dapat diukur dari FCR (Feed Conversion Ratio), yaitu perbandingan antara bobot pakan yang diberikan dengan penambahan bobot ikan. Pakan dikatakan baik jika pemberian 1 kg pakan akan menambah bobot ikan lebih dari 1 kg. Jadi, semakin kecil FCR semakin baik.

Membuat Pelet

Syarat dalam membuat pelet adalah kandungan gizinya tinggi, mudah diolah, bebas racun, dan harganya terjangkau. Bahan yang digunakan untuk membuat pelet terdiri dari: dedak atau bekatul, ikan asin BS Super, keong mas, daun pepaya, ragi tempe, konsentrat, dan vitamin.

Dedak, keong mas, konsentrat, dan vitamin dicampur dan diaduk rata. Tambahkan ragi tempe, aduk kembali. Tutup rapat dan biarkan semalaman supaya proses fermentasi berjalan dengan baik.

Keesokan paginya, campur adonan dengan ikan asin dan gilingan daun pepaya. Cetak pelet dan potong-potong dengan ukuran 1,5 cm, kemudian dijemur hingga kering.

Pelet juga bisa dibuat dari cacing tanah dengan menjemurnya di atas seng yang panas selama 24 jam, kemudian digiling menjadi tepung. Tambahkan air secukupnya, cetak dan potong kecil-kecil, kemudian dijemur kembali.

Membuat Pakan Alternatif

Bahan utama untuk membuat pakan alternatif adalah tepung ikan karena mengandung protein sangat tinggi. Agar lebih ekonomis, tepung ikan yang harganya mahal dicampur dengan bahan yang lebih murah, seperti tepung kedelai, tepung jagung, tepung tapioka, dedak halus, dan bungkil kelapa.

Hasil pencampuran harus memiliki kandungan protein minimal 35%. Dengan begitu nilai kebutuhan protein untuk ikan akan terpenuhi.

Membuat Pakan Tambahan

Sesuai namanya, pakan tambahan bertujuan untuk melengkapi pakan utama sehingga mengurangi biaya dan memperbesar keuntungan. Kandungan nutrisinya tidak bisa diukur secara tepat, hanya perkiraan saja.

Pakan tambahan dapat dibuat dari limbah peternakan unggas, keong mas, ikan rucah, cacing, belatung, atau tanaman.

5 Kunci Sukses Budidaya Ikan Lele di Kolam Terpal

http://peluangusahaterkini.com

Beternak ikan lele dapat dilakukan di lahan sempit dan di daerah mana pun. Meski ikan lele termasuk mudah dipelihara, jangan abaikan kualitas air yang digunakan.

Ikan lele dapat hidup dan tumbuh di lingkungan dengan suhu 26-32 derajat Celsius dan pH normal, yaitu 7-8. Suhu dan pH yang tidak sesuai akan mengganggu proses pencernaan makanan pada ikan lele.

Beternak ikan lele dapat dilakukan dengan menggunakan kolam tanah, kolam semen, drum plastik, atau kolam terpal. Kolam terpal adalah jenis kolam yang paling baru dan banyak dipilih oleh para peternak ikan lele karena memiliki beberapa kelebihan, yaitu:

  • Dapat dibuat di lahan sempit, praktis, mudah, dan murah.
  • Ikan lele yang dihasilkan tidak berbau lumpur dan terhindar dari zat pencemar yang berasal dari tanah atau semen. Dengan begitu, rasa dagingnya jadi lebih enak dan harga jualnya pun lebih tinggi.
  • Lebih tahan terhadap hama penyakit, terutama jika dibandingkan dengan kolam tanah
  • Produktivitas tinggi karena ikan lele tidak mudah mati, ukurannya lebih besar, dan lebih cepat panen.
  • Fleksibel, karena ikan lebih mudah ditangkap dan dipindahkan.

Nah, jika Anda ingin terjun dalam bisnis ini, perhatikan 5 kunci sukses budidaya ikan lele di kolam terpal berikut ini.

1.    Cara Membuat Kolam Terpal

Membuat kolam pembesaran ikan lele tidaklah sulit, tetapi ada syarat yang harus dipenuhi. Daya tampung kolam terpal untuk budidaya ikan lele adalah kurang lebih 100 ekor benih per meter persegi. Jadi, untuk 1.000 ekor benih, dibutuhkan kolam berukuran 5×2 meter.

Untuk membuat kolam terpal yang baik, lakukan langkah berikut:

  • Siapkan terpal khusus. Saat ini, harga terpal yang biasa digunakan untuk budidaya ikan lele adalah sekitar Rp9.000,00 per meter persegi.
  • Bagi pemula, buatlah kolam berukuran 5×2 meter untuk meminimalkan kerugian jika terjadi kegagalan.
  • Buatlah dasar kolam dengan menggali tanah sedalam 70 cm hingga 1 meter. Kemudian, letakkan tanah hasil galian di tepi kolam setinggi 30-50 cm sebagai tanggul supaya kolam tidak mudah jebol. Kolam juga dapat dibuat di permukaan tanpa menggali tanah.
  • Susunlah beberapa pagar (reng) dari bambu di atas tanggul tersebut dengan ketinggian sekitar 35 cm. Gunakan bambu utuh untuk bagian sudut kolam.

2.    Mempersiapkan Kondisi Kolam

Langkah persiapan sebelum benih ditebar adalah mengisi kolam dan melakukan pemupukan. Isilah kolam dengan air yang benar-benar bersih dan tidak tercemar limbah apa pun hingga ketinggian air kira-kira 60 cm. Selanjutnya, lakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk kandang dari kotoran kambing.

Kolam berukuran 5×2 meter membutuhkan pupuk sebanyak 10-15 kg yang dibagi dalam dua karung. Masukkan pupuk beserta karungnya ke dalam kolam, di pinggir maupun di tengah kolam.

Karung harus mengambang dan dapat bergerak bebas. Setelah 1 minggu, celupkan berulang kali sampai semua pupuk terserap air, lalu angkat.

3.    Cara Menebar Benih

Menebar benih ikan lele harus dilakukan dengan benar dan hati-hati. Tempatkan benih di dalam sebuah wadah plastik. Tebarkan dengan cara memiringkan wadah dan benih-benih ikan lele dituangkan sedikit demi sedikit.

Lakukan penebaran ini di pagi atau sore hari saat cuaca teduh. Dengan demikian, ikan lele tidak stres atau mati akibat suhu air yang terlalu panas.

4.    Tahap Pemeliharaan

Sebelum masa panen tiba, air tidak perlu diganti. Air kolam harus selalu berada dalam kondisi tenang dan tergenang. Karena itu, hindari pengurasan dengan cara sirkulasi karena akan menyebabkan pH air terganggu.

Penambahan air dilakukan secara bertahap, yaitu setinggi 20-30 cm setiap pergantian pakan jenis tertentu, hingga mencapai 120 cm.

Lakukan pemberian pakan sebanyak 5-6 kali sehari dengan jarak sekitar 2-3 jam. Lakukan ketika mataharai sudah terbit karena saat itu zat pencemar di sekitar kolam sudah hilang terpapar sinar matahari.

Jangan memberi pakan saat hujan karena dapat menyebabkan pakan tercemar zat asam, sehingga mengganggu kesehatan lele.

5.    Saatnya Memanen

Umumnya, waktu yang tepat untuk memanen ikan lele adalah 2-3 bulan setelah benih disebar. Pada saat ini, 1 kg ikan lele berisi 7-8 ekor. Agar lele tidak lecet saat dipanen, gunakan peralatan memanen yang halus dan licin.

Caranya, surutkan air kolam, lalu gunakan serokan atau jaring untuk menangkap lele. Masukkan ke dalam wadah plastik.

Demikianlah 5 kunci sukses budidaya ikan lele di kolam terpal. Tidak sulit, tetapi bisa memberikan keuntungan yang menarik, dan tidak di ragukan lagi manfaat ikan lele sangatlahlah untuk kehidupan manusia.

Apalagi, dengan rasa yang lezat dan kandungan gizi yang baik, semakin banyak masyarakat yang menyukai ikan ini. Usaha budidaya ikan lele pun memiliki prospek yang sangat baik untuk dijalankan. Anda tertarik untuk menjalankannya? Bersegeralah memulai, karena ilmu tanpa praktek tidak akan jadi apa-apa… semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentar